She Found Love

Suasana Pengunjung
Taman Begonia, Lembang, Bandung
Batal ke Taman Bunga Nusantara, Cianjur. Saya dan istri tetap semangat menghibur diri dengan berjalan-jalan untuk sekedar mengisi weekend kali ini ke Taman Begonia Lembang, Bandung. Seperti biasa, sebelum memutuskan ke tempat wisata, saya dan istri selalu mencari tahu terlebih dulu alamat lokasi, lengkap dengan foto-foto yang ditawarkan oleh tempat wisata tersebut.
Berhubung sekarang musim hujan, kami memutuskan untuk berangkat lebih awal. Karena akhir-akhir ini diatas pukul 12.00 dipastikan hujan. Tidak lupa saya bawa raincover dan jas hujan. Perjalanan dari tempat kami tinggal ke Taman Begonia tidak begitu jauh, syukurnya jalanan pun belum semacet yang dibayangkan.
She Found Love
She Found Love
Istri saya sangat suka bunga matahari, matanya langsung berbinar-binar ketika melihat bunga matahari. Seolah menemukan cinta. Sesampainya di lokasi dia narik-narik jaket saya agar segera masuk ke Taman Begonia. Tujuan utama dia itu tidak lain adalah bunga matahari. Ya, meski hanya sedikit tapi setidaknya saya senang melihat dia senang.

Selanjutnya apa lagi? Seperti biasa, saya rekam setiap moment selama disana. Selain untuk kenang-kenangan juga karena ongkos kamera DSLR yang "lumayan". Jadi, tiket masuk ke Taman Begonia ini cukup Rp 5.000/org tapi kalo bawa SLR kena cash Rp 50.000,-. Khusus prawed kalau tidak salah 250.000. Nah, bagi pengunjung yang mau foto-foto tapi free bisa pake smartphone dan tongsis, ya!
Taman Begonia
Suasana di Taman Begonia #tuskbag 
Taman Begonia Lembang
Menikmati Indahnya Bunga
Another day with you
Foto bareng di Taman Begonia, Lembang
Di taman Begonia ini tidak hanya menawarkan berbagai warna-warni bunga tapi ada juga ladang sayuran. Sayurannya antara lain tomat, jagung, terong, kol dan lain-lain. Ajak anak kecil juga bagus biar mengenal macam-macam bunga dan sayuran. Ayo agendakan untuk segera ke sini. Taman Begonia ini bisa menjadi salah satu alternatif wisata untuk liburan singkat semacam weekend ini.

Sebenarnya, Taman Begonia ini adalah pusat penjualan dan budi daya bunga Begonia. Namun kemudian, menjadi area wisata karena ada bunga lain juga yang tumbuh baik. Seiring berjalannya waktu, Taman Begonia menjadi marak dikunjungi dan akhirnya orang-orang senang dengan hanya berjalan-jalan di taman yang penuh bunga. Oia, di taman ini juga ada kafe dan beberapa stand makanan. Menikmati panorama berbunga di daerah sejuk sambil menyeruput secangkir kopi vietnam itu menyenangkan sekali, bukan?
Ayo Ke Ladang Sayur
Ayo ke Ladang Sayuran
Ladang Sayur
Ladang Sayuran! #tuskbag #rollagrey
Yuk, yang mau refreshing ke Lembang coba ke Taman Begonia. Dekat dengan pusat Lembang, dan beberapa tempat wisata menarik lainnya. Untuk short trip seperti ini tidak perlu membawa keril atau koper kok. Tas punggung atau mini backpack juga oke. Seperti tas Rolla Grey yang dipakai istri saya. Cukup untuk membawa perlengkapan saya dan dia selama berwisata.

Explorasi Tebing Keraton

Wajah Tebing Keraton
Sebelum Sunrise di Tebing Keraton
Tidak ada persiapan khusus menuju ke #TebingKeraton, selain modal nekad dan rasa penasaran yang begitu tinggi. Awalnya cuek tentang wisata tebing yang dikabari istri di wall facebook, soalnya saya kira tidak begitu istimewa. Tapi akhirnya saya penasaran juga untuk membuka link tersebut, rupanya itu salah satu link blogger yang hobinya #travelling. Saya fokus melihat foto-fotonya, ternyata sangat memukau, seolah terkena "sihir" seketika itu saya langsung menghubungi istri kalau besok pagi harus ke Tebing Keraton!

Haha. Beneran, saking semangatnya saya dan istri berangkat jam 04.00 dari Gegerkalong. NIAT BANGET. Saya sedikit PD soalnya jalanan menuju kesana sedikit banyak sudah tahu, patokan utamanya itu TAHURA alias Taman Hutan Rakyat. Tempat wisata satu ini sudah tidak asing lagi, berhubung waktu kuliah sering kesini bahkan beberapa tahun lalu dijadikan tempat Kopdar Bloofers. Nah, dari TAHURA kemana? Tapi sebelumnya bagi teman-teman yang belum tahu saya awali patokannya dari McD Simpang Dago, ya. 

Dari Simpang Dago menuju arah Terminal Dago terus lurus hingga bertemu belokan ke KIRI setelah Indomaret. Ambil belokan kiri ini sampai ke Tahura lalu LURUS SEDIKIT dan belok KANAN masuk ke Jalan Dago Pakar Utara (yang ada portal). Jalan lurus terus melewati perumahan dan hutan sampai WARUNG BANDREK. Setelah ada jalan bercabang, ambil arah KIRI yang ditandai dengan papan bertuliskan "Tebing Keraton"Tidak ada belokan lagi, jalanan lurus sampai ke parkiran Tebing Keraton!

Tiba di lokasi tepat pukul 04.45. Numpang shalat subuh di rumah warga, lanjut ke loket tempat tiket. Tiket masuk Rp 11.000,-/org. Sudah termasuk asuransi dan GRATIS masuk taman Tahura. Sudah sampai? Belum, kita harus menyusuri jalan setapak kira-kira 100 meter dari tempat tiket. Tidak ada pencahayaan khusus, cukup mengandalkan pencahayaan dari bulan yang kebetulan saat itu sangat terang. Seneng campur bangga, ternyata menikmati negeri diatas awan tak perlu jauh-jauh, di Bandung pun ada tempat seindah ini. Subhanallah!
Tebing Keraton View
Pemandangan Kabut dari Tebing Keraton
Selfie at Tebing Keraton
Selfie di Tebing Keraton
Tebing Keraton Bandung
Semakin Siang, Semakin Banyak Pengunjung!
Tebing Keraton Bandung
Di Batu Tebing Keraton
Pengunjung Tebing Keraton
Pengunjung Tebing Keraton
Bagaimana? Ada yang mau coba kesana? Kendaraan yang saya sarankan itu pake sepeda atau motor, berhubung jalanan kecil, terjal dan lumaya licin. Kalau mau melihat keindahan kabut usahakan sepagi mungkin datangnya. Satu lagi, hati-hati ya selama di Tebing Keraton, jangan terlalu memaksakan duduk di atas batu yang paling ujung kalau memang tidak berani. Ramahlah terhadap lingkungan dan jadilah traveller yang baik!

Ogrow | Twitter | Facebook 

Bekal Makan Siang!

Salad Sayur ala Chef Pita!
Salad Sayur ala Ogrow!
Sinar matahari siang ini sangat menyengat. Diatas sana langit memang biru, berawan  cerah tapi lumayan panas. Biasanya panas-panas seperti ini, makan apa yang enak Sob? Mungkin ada yang memilih makan-makanan yang rada segeran, ya. Rujak, baso, ice cream, es kopyor atau ngeshake? Apa pun itu, yang jelas siang ini saya lagi menikmati menu makan siang yang diracik oleh chef tercinta!

Ya, menu makan siang kali ini saya dibekali Salad Sayur oleh chef tercinta (istri). Salad sayur ini sebenarnya dari dulu (sebelum nikah) cuma bisa membayangkan saja ada yang membuatkan bekal seperti sekarang ini. Alhamdulillah, sekarang tidak lagi membayangkan tapi sudah jadi kenyataan. Salad sayur ini memang simpel alias praktis membuatnya. Hanya saja, antara dibuat sendiri sama dibuatkan oleh istri itu sangat-sangat berbeda rasanya, bukan? :D

Sebelum nulis postingan ini, saya tanya ulang sayur apa saja yang ada di bekal makan siang ini. Sayurannya lumayan mudah di dapat, diantaranya; Kol ungu, timun jepang, wortel, bawang bombay, lettuce. Sayuran ini di iris tipis sesuai selera. Lalu campurkan garam, black pepper dan minyak sayur sedikit. Kemudian siram dengan mayonaise. Telor rebus dan udang (ini) sebenarnya bonus, sebagai tambahan protein.  

Nyammm, waktu saya makan, mayonaisenya pas, garamnya gak berlebihan dan sayurannya tetap segar. Nyammm... Lelehan mayonaisenya itu sangat menggoda di lidah. Semuanya terasa sangat lezaaattt. Terlebih akhir-akhir ini saya baru tahu kalau kol ungu itu kayak dengan vitamin. Ah, semangat banget deh makan siang kali ini! Selamat makaaan Sobat... :D

Ogrow | Twitter | Facebook 

Hunting Bunga Matahari

Bunga matahari belum mekar
Mungkin ada yang sedang mencari Bunga Matahari juga? Nah, kebetulan saya baru hunting bunga ini. Buat temen-temen yang ada di Bandung kalau butuh bunga matahari untuk jumlah yang banyak atau satuan bisa ke Jln. Sersan Bajuri, Cihideung, Bandung. Sepanjang jalan itu kita bisa temui beragam bunga yang kita cari. Mulai dari bunga mawar, bunga soka, bunga lavender, bambu air sampai ke pohon-pohon hias alias bonsai dengan bentuk yang bermacam-macam. 

Jangan khawatir, meskipun bunga matahari tergolong bunga yang agak langka tapi dari segi harga, bunga yang satu ini cukup terjangkau. Hanya dengan Rp 15.000 kita bisa mendapatkan satu pohon bunga matahari, dari setiap pohon biasanya ada beberapa tangkai bunga dan itu tidak tumbuh secara bersaman sehingga para penikmat bunga ini bisa melihat sang bunga yang bermekaran dalam jangka waktu yang lama. 

Ada yang tahu berapa lama bunga matahari itu tumbuh sampai berbunga? Menurut Mr. Fothergill's, kita membutuhkan waktu sekitar 4 bulan untuk menanam bunga matahari sampai dia berbunga. Pertumbuannya pun dipengaruhi oleh suhu kelembaban, musim dan nutrisi yang kita berikan. Bagi yang mau melatih kesabaran dan ketelatenan bisa mencobanya untuk menanam bunga matahari. Ada yang mau coba?


Tips Sebelum Backpacker!

Bersama Sahabat Backpacker Agus Suhendra, Dieng, Jawa Tengah
Sudah lama tidak menulis di Blog ini. Kali ini saya akan menulis tentang persiapan sebelum backpacker sesuai pengalaman sendiri, baik itu barang-barang atau hal lain yang "wajib" dibawa pada saat backpacker. Siapa yang punya resolusi di 2014 ini untuk backpacker ke suatu tempat? Biar lebih mantap, gak ada salahnya buat simak tips berikut ini, semoga bermanfaat.

1. Mulai dari research tentang daerah atau kota yang akan dikunjungi, peta daerah, lokasi wisata/bersejarah, kumpulkan data-data penting tentang daerah tersebut. Jangan sampai salah pilih kostum dan yang paling penting cek perkiraan cuaca buat jaga mood berbackpacker.

2. Tentukan list kunjungan, atur waktu, tempat menginap. Jangan sampai ada lokasi yang wajib dikunjungi tapi terlewatkan begitu saja. Soal menginap, mungkin bisa menghubungi kawan yang ada disekitaran tempat backpacker, bukan tidak mungkin kita mendapatkan tempat menginap gratis.

3. Jika membawa alat transfortasi sendiri, upayakan mengecek kondisi kendaraan. Siapkan biaya untuk bensin atau biaya pejalanan bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi. Tidak cuma kendaraan, tapi kita juga harus jaga kondisi. Makanlah yang teratur plus tambahan vitamin sangat diperlukan bagi tubuh, lamanya perjalanan plus perubahan waktu, akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan.

4. Buat list barang–barang apa saja yang akan dibawa mulai dari peralatan mandi ukuran mini lengkap (sikat gigi, pasta, sabun, sikat muka, shampoo, dll), peralatan sholat, kantong isi: colokan listrik T, card Reader&charger hp, baju ganti, P3K minimal. Dan bagi yang bawa si kecil jangan lupa keperluannya.

5. Terakhir, persiapkan tas backpacker untuk mengakomodir barang-barang yang kita bawa. Jenis tas sendiri harap disesuaikan dengan postur tubuh. Pilihlah tas dengan bahan yang kuat dan wajib bawa rain cover. Selain itu, pilihlah tas dengan tali tambahan di bagian dada maupun pinggang. Tali-tali tersebut berguna untuk menyeimbangkan berat badan selama backpacker.

Bagaimana, sudah ada gambaran tentang persiapan sebelum backpacker ini? Kemana pun kita backpacker, selama dijalani dengan hati riang maka yang ada adalah rasa senang dan semangat berjelajah ditempat asing. Selamat backpacker kawans.

 Ogrow | Twitter | Facebook | Tumblr 

Explorasi Kawah Putih

Kebun Teh Ciwidey
Agrowisata Kebun Teh Ciwidey
Sungguh! Langit Ciwidey sangat bersahabat. Lihatlah landscape diatas. Subur, hijau, biru, cerah, harmoni. Pemandangan seperti ini sangat jarang saya temui. Biasanya setiap kali ke Ciwidey selalu mendung dan berembun. Tapi explorasi kemarin, sangat berbeda. Membuat saya semakin betah berlama-lama memandang alam raya yang terhampar begitu indahnya. Sepertinya yang baca bakal tersihir! 

Pada explorasi kali ini saya tidak sendiri, saya bersama sahabat (kembar) saya, Aulia Rahman. Kebetulan dia sedang ada waktu luang untuk sekedar silaturahim ke Bandung. Tentunya kesempatan ini tidak akan kami sia-siakan. Makanya sepanjang perjalanan menuju Kawah Putih, kami rekam baik-baik. Karena kami tahu kondisi seperti ini sangatlah langka.

Sebelum ke Kawah Putih, kami sempatkan ke perkebunan Teh Ciwidey. Mumpung masih pagi. Lokasinya tidak terlalu jauh dari gerbang pintu Kawah Putih. Hanya butuh 5 menit saja. Biasanya yang berkunjung ke Kawah Putih suka menyempatkan ke tempat ini untuk foto-foto diatas bebatuan. Kondisi awan saat itu memang bergerak agak cepat dan berubah-ubah sehingga sinar yang menyorot juga berubah-ubah.

Harmoni Kebebasan
Aulia di tengah Hamparan Kebun Teh Ciwidey
Next! Untuk menuju Kawah Putih kita harus menggunakan Ontang-anting yang disediakan pengelola wisata. Kapasitas Ontang-anting sendiri harus ada 12 penumpang, kalau belum 12 penumpang terpaksa harus menunggu sampai full. Lumayan agak lama kami menunggu, kalau tidak salah waktu itu kurang 4 penumpang lagi. Sampai akhirnya penumpang full dan mau berangkat. Eh, si Ontang-anting ngadat, gak mau jalan! "Ampun dah. Haha..!"

Ya, Ontang-anting akhirnya melaju dengan lumayan gesit tapi bisingnyaa bukan main. Setiap ada tanjakan yang kemudian disusul turunan agak landai, sang supir seolah menabraknya sampai menimbulkan hentakan pada si penumpang. Sesekali para penumpang berteriakkkkK! Wooow, mungkin inilah rasanya menggunakan si Ontang-anting. Ada sensasi tersendiri. Kalau tidak percaya, rekan-rekan bisa mencobanya sendiri! :D

Diluar dugaan, sesampainya di Kawah Putih cuaca saat itu masih anteng dengan cerahnya. Saya sampai terkagum-kagum melihat cerahnya cuaca saat itu. Turun dari Ontang-anting, saya langsung jongkok diatas rumput yang hijau dan mengeluarkan kamera jagoan. "Day, coba foto saya. Saya ingin berbicara pada Tuhan!" | "Oke. Memang mau bicara apa?" | "Langitnya terbuka, sepertinya para Malaikat menyambut saya, Day" | "Hahaha. Bisa jadi, bisa jadi!"
Berbicara Pada Tuhan
Berbicara Pada Tuhan
Wajah Kawah Putih! Asli, saya memujinya tak henti-henti. Panorama ini sangat langka. Sekitar tiga atau empat kali saya ke sini, baru kali ini langit terbuka. Birunya benar-benar jadi pengabur lelahnya 2 jam perjalanan. Alam di sekitar Kawah Putih sangat indah, dengan air danau berwarna putih kehijauan, sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Di sebelah utara danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya.
Sejarahnya berawal dari tahun 1837, seorang Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) mengadakan perjalanan ke daerah Bandung Selatan. Ketika sampai di kawasan tersebut, Junghuhn merasakan suasana yang sangat sunyi dan sepi, tak ada binatang yang melintas. Ia kemudian menanyakan hal ini kepada masyarakat setempat, dan menurut masyarakat; kawasan Gunung Patuha sangat angker dan tempat bersemayamnya arwah para leluhur. Karenanya bila ada burung yang berani melintas di atas kawasan tersebut, akan jatuh dan mati.
Meskipun demikian, melanjutkan perjalanannya menembus hutan belantara untuk membuktikan kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebelum sampai di puncak gunung, Junghuhn tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah di hadapannya, dimana terhampar sebuah danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehijauan. Dari dalam danau itu keluar semburan lava serta bau belerang yang menusuk hidung. 
Wajah Kawah Putih | Bandung
Wajah Kawah Putih, Ciwidey, Bandung
Awalnya saya tidak memakai masker seperti Aulia, tapi lama-lama hidung rembes. Padahal kawahnya tidak menguap seperti biasa saya temui, tapi sesuai sejarahnya, bau belerang sangat menusuk hidung. Pengelola wisata Kawah Putih sendiri menghimbau agar tidak lebih dari 15 menit berada disini, mengenakan masker, dan tidak mandi di kawah. "Siapa pula yang mau mandi. Hehehe!"

Lanjut. Semakin siang semakin membludak saja para wisatawan dari berbagai rombongan. Selain wisatawan lokal, wisatawan mancanegara juga ada disini. Mungkin karena lokasi dan pemandangannya yang sangat indah. Ada lagi yang bilang kalau Kawah Putih itu seperti "Syurga Yang Tercecer". Percaya gak? Ayo, buktikan sendiri!!!

Welcome to Kawah Putih
Welcome to Kawah Putih, Friend!


Kembalinya Sebuah Persahabatan

Bunung Gebeg
Pesawahan di Desa
Sob, menurut saya dunia ini tidak lengkap tanpa adanya sahabat. Bener gak? Bersama sahabat kita bisa percaya diri untuk melangkah kemana pun dan melakukan apa pun. Kita bisa mengexplorasi sesuatu yang tidak bisa dilakukan saat kita bersama keluarga. Saking bernilainya sebuah persahabatan, sampai-sampai kita rela berkorban demi sahabat kita. Ya, begitulah dunia persahabatan. Beruntung sekali bagi yang memiliki sahabat, terlebih sahabat sejati. Hei, apakah sahabat sejati itu? Ah, terlalu panjang prolognya! Haha...

Ngomong-ngomong soal sahabat, saya jadi ingat sahabat kecil saya namanya Diana Tatang Lugina. Panggilannya Ugi, sebuah panggilan unik yang sangat akrab waktu duduk di bangku SD Sukasari III. Ke sekolah kami gunakan sepeda, kadang bergantian. Ugi kecil sangat cerdas, bahkan dia paling pintar di kelas. Ugi pernah bilang, "Kalau mau pintar, duduknya di depan!". Kelas satu saya sebangku dengan Ugi dan paling depan. Saya merasa percaya diri selama sebangku sama Ugi, Matematikanya jago banget!

Sepulang sekolah, saya lanjut main bersama teman-teman yang lain, termasuk Ugi. Kadang main ke sawah, ke kebun, manjat pohon sampai ke tepian tebing, saya masih ingat ada satu tebing dekat pesawahan yang kerapkali dijadikan tempat favorite kami bermain. Berlagak seperti power ranger sambil bawa pedang-pedangan, perang-perangan diatas rumput, bersembunyi dibalik semak-semak hingga mengulur tali ke dasar tebing lalu kami turun dan naik menggunakan tali itu. Ah, pokoknya seruuu. Hahahaha....!

Kebersamaan sama Ugi tidak begitu lama seperti teman-teman yang lainnya. Menginjak kelas tiga Ugi pindah ke SD Tanjungkerta yang lumayan agak jauh. Pagi itu Ugi, Teteh, dan Bapaknya pamitan. Sedih, tapi saya tidak menangis. Hehehe. Cuma suka keingetan saja pas main di tepian tebing sama teman-teman yang lain tapi tidak ada Ugi. Mungkin Ugi sudah punya sahabat baru dan semakin pintar. Ternyata benar, Ugi kecil dimana pun tetap jadi nomor satu. 

Hanya saja selain itu Ugi punya kisah lain dalam keluarganya. Saat Ugi kelas 5, orang tuanya berpisah. Ugi terpukul, padahal saat itu Ugi sedang haus-hausnya kasih sayang orang tua. Jika kakek dan neneknya tidak mengajari untuk tegar, entah bagaimana keadaan Ugi kecil saat itu. Ugi terus bertahan dan lebih dekat dengan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya kelas 6 kami bertemu di ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tahun 1999. Saya perwakilan olahraga Badminton dan Ugi olahraga Voli.

SMP dan SMA kami berbeda, bahkan Ugi masuk SMK jurusan Mesin. Masa-masa itu kami makin tidak ada komunikasi. Saat itu ujian kembali datang menimpa bapaknya yang menjadi korban atas konspirasi politik hingga menggiring bapaknya ke rumah t*h*n*n. Padahal Ugi sedang butuh support dari kedua orang tuanya. Sedih. Ketika saya lanjut kuliah, Ugi lebih memilih wirausaha merintis dunia perbengkelan di desa. Padahal Ugi sangat ingin melanjutkan kuliahnya. Tapi kondisi tidak memungkinkan.

Mentari di kebun
Mentari pagi di Desa
Lama kami tidak ada komunikasi, tiba-tiba saya dapat nomor phonsel Ugi dari adik ketika saya sedang PKL dan Tugas Akhir tahun 2009. Saya coba mengirim SMS iseng dengan nama Qefy. Lengkapnya Muhammad Qefy Alghifari. Awalnya Ugi mengira ada teman dekatnya yang jail, tapi lama-lama nyambung. Saya teruskan keisengan ini, karena sudah terlanjur. Sedikit pun Ugi tidak mengira kalau itu adalah saya, Dia Rediana Putra. Sahabatnya yang sudah lama tidak ada kabar.

Niat awal saya adalah untuk memotivasi Ugi, karena saat itu saya mendengar ada kabar yang tidak mengenakan. Sepertinya Ugi merasa senang ada sahabat baru, meski pun Ugi tidak tahu siapa Qefy? Ya, saya pun bersyukur akhirnya rencana saling memotivasi ini berjalan lancar dan saya tetap merahasiakan nama asli saya. Sedang seru-serunya berlempar motivasi, phonsel saya malah hilang. L.O.S.T - C.O.N.T.A.C.T. Padahal saat itu saya akan memberi tahu siapa Qefy sebenarnya.

Saya terus berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang nyaman dan saya bisa mengajak Ugi untuk kerja bareng. Karena saya tahu Ugi orangnya gigih, pasti semakin terasah. Alhasil sampai sekarang, saya belum juga menemukan pekerjaan yang saya anggap nyaman dan bisa mengajak Ugi. Ternyata memang tak segampang yang saya bayangkan. Mungkin ada rahasia lain dari Tuhan hingga kemarin ada yang add facebook dengan nama Husna Nursyifa Azzahra, rupanya itu Ugi!

Subhanallah. Senangnya bukan kepalang. Seketika kami langsung akrab, bercerita apa yang sudah terlewati tanpa ujung. Ugi sudah menikah dan dikaruniai anak yang cantik, Husna Nursyifa Azzahra. Sekarang Ugi sudah punya bengkel sendiri di desa. Luar biasa senangnya. Sesekali Ugi bercerita tentang Husna yang sekarang menjadi penyemangat utama bagi Ugi, tentang kondisi bengkelnya yang perlu dibenahi juga bercerita tentang nama Qefy yang dianggapnya misterius.

Menurut cerita Ugi, Ugi pernah cerita kepada istrinya tentang sosok Qefy. Bahkan sepakat kalau anaknya laki-laki akan diberi nama Muhammad Qefy Alghifari. Saya hampir tidak percaya dengan cerita Ugi, sampai sedalam itu Ugi mengenang sosok Qefy. Tidak terbayang kalau anak Ugi laki-laki. Setelah Ugi tahu siapa Qefy sebenarnya, tidak menyangka, tak berkurang sedikit pun keceriaan Ugi tentang itu. Bahkan kami semakin akrab. Kami senang bisa bertemu kembali dan sama-sama terharu dengan sekenario Tuhan Yang Maha Ulung.

What next? Ya, apa selanjutnya? Saya ingin terus bersahabat dengan Ugi dan keluarga kecilnya. Setelah saya menikah nanti, saya ingin mengajak mereka keliling kota parahiyangan, Bandung. Main seharian bersama mereka, bercerita tentang masa kecil, tertawa dengan lepas, hingga kami merasakan bahwa hidup ini indah sesuai seharusNya. Tulsian ini saya dedikasikan sebagai perekat kembalinya persahabatan kami. Semoga persahabatan kami selalu Allah berkahi. Ammiin...

Blog | Twitter | Facebook | Tumblr | About Me!
 
Qefy © 2010 | Designed by Chica Blogger | Back to top