Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kembalinya Sebuah Persahabatan

Bunung Gebeg
Pesawahan di Desa
Sob, menurut saya dunia ini tidak lengkap tanpa adanya sahabat. Bener gak? Bersama sahabat kita bisa percaya diri untuk melangkah kemana pun dan melakukan apa pun. Kita bisa mengexplorasi sesuatu yang tidak bisa dilakukan saat kita bersama keluarga. Saking bernilainya sebuah persahabatan, sampai-sampai kita rela berkorban demi sahabat kita. Ya, begitulah dunia persahabatan. Beruntung sekali bagi yang memiliki sahabat, terlebih sahabat sejati. Hei, apakah sahabat sejati itu? Ah, terlalu panjang prolognya! Haha...

Ngomong-ngomong soal sahabat, saya jadi ingat sahabat kecil saya namanya Diana Tatang Lugina. Panggilannya Ugi, sebuah panggilan unik yang sangat akrab waktu duduk di bangku SD Sukasari III. Ke sekolah kami gunakan sepeda, kadang bergantian. Ugi kecil sangat cerdas, bahkan dia paling pintar di kelas. Ugi pernah bilang, "Kalau mau pintar, duduknya di depan!". Kelas satu saya sebangku dengan Ugi dan paling depan. Saya merasa percaya diri selama sebangku sama Ugi, Matematikanya jago banget!

Sepulang sekolah, saya lanjut main bersama teman-teman yang lain, termasuk Ugi. Kadang main ke sawah, ke kebun, manjat pohon sampai ke tepian tebing, saya masih ingat ada satu tebing dekat pesawahan yang kerapkali dijadikan tempat favorite kami bermain. Berlagak seperti power ranger sambil bawa pedang-pedangan, perang-perangan diatas rumput, bersembunyi dibalik semak-semak hingga mengulur tali ke dasar tebing lalu kami turun dan naik menggunakan tali itu. Ah, pokoknya seruuu. Hahahaha....!

Kebersamaan sama Ugi tidak begitu lama seperti teman-teman yang lainnya. Menginjak kelas tiga Ugi pindah ke SD Tanjungkerta yang lumayan agak jauh. Pagi itu Ugi, Teteh, dan Bapaknya pamitan. Sedih, tapi saya tidak menangis. Hehehe. Cuma suka keingetan saja pas main di tepian tebing sama teman-teman yang lain tapi tidak ada Ugi. Mungkin Ugi sudah punya sahabat baru dan semakin pintar. Ternyata benar, Ugi kecil dimana pun tetap jadi nomor satu. 

Hanya saja selain itu Ugi punya kisah lain dalam keluarganya. Saat Ugi kelas 5, orang tuanya berpisah. Ugi terpukul, padahal saat itu Ugi sedang haus-hausnya kasih sayang orang tua. Jika kakek dan neneknya tidak mengajari untuk tegar, entah bagaimana keadaan Ugi kecil saat itu. Ugi terus bertahan dan lebih dekat dengan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya kelas 6 kami bertemu di ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tahun 1999. Saya perwakilan olahraga Badminton dan Ugi olahraga Voli.

SMP dan SMA kami berbeda, bahkan Ugi masuk SMK jurusan Mesin. Masa-masa itu kami makin tidak ada komunikasi. Saat itu ujian kembali datang menimpa bapaknya yang menjadi korban atas konspirasi politik hingga menggiring bapaknya ke rumah t*h*n*n. Padahal Ugi sedang butuh support dari kedua orang tuanya. Sedih. Ketika saya lanjut kuliah, Ugi lebih memilih wirausaha merintis dunia perbengkelan di desa. Padahal Ugi sangat ingin melanjutkan kuliahnya. Tapi kondisi tidak memungkinkan.

Mentari di kebun
Mentari pagi di Desa
Lama kami tidak ada komunikasi, tiba-tiba saya dapat nomor phonsel Ugi dari adik ketika saya sedang PKL dan Tugas Akhir tahun 2009. Saya coba mengirim SMS iseng dengan nama Qefy. Lengkapnya Muhammad Qefy Alghifari. Awalnya Ugi mengira ada teman dekatnya yang jail, tapi lama-lama nyambung. Saya teruskan keisengan ini, karena sudah terlanjur. Sedikit pun Ugi tidak mengira kalau itu adalah saya, Dia Rediana Putra. Sahabatnya yang sudah lama tidak ada kabar.

Niat awal saya adalah untuk memotivasi Ugi, karena saat itu saya mendengar ada kabar yang tidak mengenakan. Sepertinya Ugi merasa senang ada sahabat baru, meski pun Ugi tidak tahu siapa Qefy? Ya, saya pun bersyukur akhirnya rencana saling memotivasi ini berjalan lancar dan saya tetap merahasiakan nama asli saya. Sedang seru-serunya berlempar motivasi, phonsel saya malah hilang. L.O.S.T - C.O.N.T.A.C.T. Padahal saat itu saya akan memberi tahu siapa Qefy sebenarnya.

Saya terus berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang nyaman dan saya bisa mengajak Ugi untuk kerja bareng. Karena saya tahu Ugi orangnya gigih, pasti semakin terasah. Alhasil sampai sekarang, saya belum juga menemukan pekerjaan yang saya anggap nyaman dan bisa mengajak Ugi. Ternyata memang tak segampang yang saya bayangkan. Mungkin ada rahasia lain dari Tuhan hingga kemarin ada yang add facebook dengan nama Husna Nursyifa Azzahra, rupanya itu Ugi!

Subhanallah. Senangnya bukan kepalang. Seketika kami langsung akrab, bercerita apa yang sudah terlewati tanpa ujung. Ugi sudah menikah dan dikaruniai anak yang cantik, Husna Nursyifa Azzahra. Sekarang Ugi sudah punya bengkel sendiri di desa. Luar biasa senangnya. Sesekali Ugi bercerita tentang Husna yang sekarang menjadi penyemangat utama bagi Ugi, tentang kondisi bengkelnya yang perlu dibenahi juga bercerita tentang nama Qefy yang dianggapnya misterius.

Menurut cerita Ugi, Ugi pernah cerita kepada istrinya tentang sosok Qefy. Bahkan sepakat kalau anaknya laki-laki akan diberi nama Muhammad Qefy Alghifari. Saya hampir tidak percaya dengan cerita Ugi, sampai sedalam itu Ugi mengenang sosok Qefy. Tidak terbayang kalau anak Ugi laki-laki. Setelah Ugi tahu siapa Qefy sebenarnya, tidak menyangka, tak berkurang sedikit pun keceriaan Ugi tentang itu. Bahkan kami semakin akrab. Kami senang bisa bertemu kembali dan sama-sama terharu dengan sekenario Tuhan Yang Maha Ulung.

What next? Ya, apa selanjutnya? Saya ingin terus bersahabat dengan Ugi dan keluarga kecilnya. Setelah saya menikah nanti, saya ingin mengajak mereka keliling kota parahiyangan, Bandung. Main seharian bersama mereka, bercerita tentang masa kecil, tertawa dengan lepas, hingga kami merasakan bahwa hidup ini indah sesuai seharusNya. Tulsian ini saya dedikasikan sebagai perekat kembalinya persahabatan kami. Semoga persahabatan kami selalu Allah berkahi. Ammiin...

Blog | Twitter | Facebook | Tumblr | About Me!

Cerita Si Anak Muda!

Selamat Pagi :)
Suasana pagi di desa yang sangat terpencil!
Begini, begini saya mau bercerita pagi ini tentang seorang anak muda yang lumayan sulit ‘melek’ setelah bangun. Bukan soal matanya yang sipit, tapi tidak tahu kenapa hari ini sangat sulit bangun. Biasanya sebelum tidur dia minum yang banyak dan pasang alarm jam 03.00. Strategi ini biasanya ampuh bikin dia bangun tepat jam 03.00 untuk sekedar ke kamar mandi, kalau berhasil berarti dia lanjut shalat malam, kalau tidak (iman ciut) dia lanjutin tidurnya.

Akhir-akhir ini dia punya sahabat yang selalu gemar bangun pagi, lebih pagi dari dia. Kadang dia bangun lebih awal, tapi seringnya dia dibangunin sahabatnya sebelum alarm berdering. Salut banget sama sahabatnya yang selalu istiqomah bangun pagi dan selalu memotivasi si anak muda ini dengan sabar agar si anak muda ini bisa shalat malam. Aduhaai, sungguh berutung sekali mmemiliki sahabat yang selalu memotivasi kita dalam berbuat kebaikan.

Seperti biasa pagi ini dia dibangunkan sama sahabatnya sekitar jam 02.25. Entah kenapa pas phonselnya diangkat tiba-tiba lowbate. Dasar emang masih ngantuk jadi dia lanjutin lagi tidurnya. Sepertinya dia terbuai dengan kenikmatan beristirahat, sampai-sampai dia melewatkan kesempatan emas untuk shalat malam. Tepat jam 04.25, phonselnya yang ke dua memekik, dia terbangun, duduk diatas kasur sambil mengumpulkan nyawa. Tak lama, suara adzan subuh berkumandang.

Setelah subuh berjemaah dia bikin secangkir kopi, awalnya dia mau melanjutkan baca buku yang belum rampung dia baca. Agar nyaman, dia baca diatas tempat tidur, dia tarik selimut dan bersandar ke tembok. Baru beberapa baris dia baca matanya langsung ngantuk, tanpa dikompromi lagi dia langsung tertidur dengan pulass. Sekitar jam 06.09 dia terbangun, minum kopi dan lanjutin baca buku sambil tiduran memeluk bantal. Ooow, tidak sampai satu menit dia tertidur lagi. Hahahaha.

Bangun-bangun sekitar jam 07.00. “Astaghfirullah… astaghfirullah…”, gumamnya sambil nyeruput sisa kopi yang sudah tidak hangat lagi. Langsung dia buka gorden yang tepat didekat tempat tidurnya. Seketika matanya silau, sang mentari pagi seolah memecut matanya dengan sinar yang menyilaukan. Duduk bersila diatas karpet biru, lanjut ngemil kue-kue, periksa bbm yang masuk, membuka notebook dan dia menulis tentangnya….

Blog | Twitter | Facebook | Tumblr | About Me!
 
Qefy © 2010 | Designed by Chica Blogger | Back to top